22.10.11

Sir Alex Ferguson pun Menyuruh Pemainnya Mogok



Sir Alex Ferguson | MANUTD.COM
DUA puluh lima tahun sudah Sir Alex Ferguson berkiprah di Manchester United. Dalam rentang waktu yang sepanjang itu, berbagai gelar pun telah diraihnya. Salah satu yang  istimewa adalah gelar treble pada 1999. Dialah, manajer klub Inggris yang pertama kali mencapainya.

Ferguson bergabung dengan Manchester United menggantikan Ron Atkinson, pada 6 November 1986.  Prestasinya yang gemilang saat menangani Aberdeen yang menjuarai Liga Skotlandia, yang kemudian berlanjut dengan tugasnya menangani tim nasional Skotlandia di Piala Dunia 1986, yang kemudian membuat datang ke Old Trafford.

Debutnya tak mulus.  Pada pertandingan pertamanya, Manchester United kalah dari Oxford United. Dua gol tanpa balas. Ferguson puyeng dengan tingkah laku pemainnya yang doyan menenggak alkohol. Kekalahan 1-5 dari rival sekota, Manchester United membuatnya hampir tergusur dari kursi manajer.

Musim pertamanya, Fergie hanya berhasil mendudukkan United di barisan 11 klasemen akhir. Namun itu jauh lebih baik, ketimbang musim sebelumnya yang hanya menclok di urutan 21. 

***

Dalam buku The Boss: The Many Sides of Alex Ferguson, dia bercerita tentang masa kecilnya di Govan, Skotlandia. Fergie yang lahir pada 31 Desember 1941 itu tumbuh di kawasan industri galangan kapal itu. Keluarga Fergie adalah buruh galangan kapal. Kakek dan ayahnya adalah pekerja di sana. Bunyi besi yang dibentuk dengan cara dipukul adalah irama yang selalu dia dengarkan seharian.

Di sisi lain, sepak bola menjadi bagian hidup keluarga ini. Ayah dan kakeknya pun pernah bergabung di klub sepak bola. Fergie tak pernah melewatkan waktu untuk menyepak si kulit bundar.

Toh kehidupan terus bergerak. Fergie sadar, sebagai lelaki dia harus menghidupi diri. Pada usia 16 tahun, Fergie memulai karirnya sebagai pekerja. Dia pun magang di perusahaan mesin ketik Remington Rand, di Hillington. Tiga tahun kemudian, dia ditawari penuh untuk bekerja di sana.

Alex Ferguson, saat bermain untuk Falkirk FC, 
November 1969|SCIENCEANDSOCIETY.CO.UK
Bekerja di Glasgow, pada akhirnya dia pun mendalami bagaimana serikat pekerja. “Itu menjadi bagian dari komunitas di sana,” kata Jimmy Reid, pemimpin buruh di sana, yang wafat tahun lalu. Ferguson pun aktif dalam gerakan itu. Mendatangi dan menghadiri cabang-cabang serikat. 

Ferguson pun ikut dalam aksi di galangan kapal Glasgow pada awal 1960-an.
Gus Macdonald, yang selanjutnya berkarir di televisi Skotlandia, meski saat itu terbilang muda, menjadi salah satu pemimpin aksi itu.  Dia dan pegawai magang lainnya, Billy Connoly, kini komedian sukses Skotlandia, berkata “setelah bertemu dengan Ferguson dan pegawai magang lainnya, segera melakukan serangan itu."

Di saat bersamaan, karir sepak bolanya merangkak. Popularitasnya sebagai penyerang mendapat pujian di mana-mana. Berkelana di berbagai klub, akhirnya dia mampir di klub idolanya Glasgow. Namun tak lama dia di sana. Kebanyakan duduk di bangku cadangan. Tawaran di Nottingham Forest ditampiknya kemudian dia pun parkir di Falkirk. Ferguson dipromosikan sebagai pelatih merangkap pemain.

Rupanya, Ferguson meresap betul pelajaran yang didapatnya selama menjadi aktivis serikat buruh. Hal itu juga yang dia terapkan saat dia menjadi pemain sepak bola. Saat bekerja di Falkirk, sebagai pemain dan pelatih, dia pernah melakukan aksi pada pihak manajemen klub.

Saat timnya kalah besar, dia meminta pemainnya melakukan aksi mogok dan menuntut agar pihak manajemen tidak lagi irit dalam pengeluaran. Aksi berhasil. Klub tunduk pada tekanan pemain. Sedangkan manajer yang irit itu pun kena tegur. 

***

BELUM ada kata yang terlontar dari mulutnya perihal waktu dia pensiun. Kemenangan demi kemenangan itulah yang ada di kepalanya. Setelah menyalip rekor Liverpool sebagai pemegang gelar Liga Inggris, dia belum puas. “Saya belum tahu kapan akan pensiun. Tubuhku masih sehat,” katanya suatu kali.

Di Old Trafford dia pun masih merasa muda. “Apalagi kalau melihat si kembar Brasil da Silva,” ujarnya sambil tergelak. Semangat itulah yang mengawal setiap mimpinya. “Kami mempelajari hidup ini dari sepak bola,” kata Fergie mengutip masa lalunya bekerja sebagai pegawai magang di galangan kapal. 

Tak ada yang tak mungkin di dalam sepak bola, seperti halnya saat United mengalahkan Bayern Muenchen dalam 114 detik. Demikian pula dalam mengejar mimpinya. Catatan mimpinya masih panjang, di saat persaingan makin keras, dia mengejar treble yang kedua.  

Tak perlu menunggu lama sebenarnya. Pada peringatan ulang tahun ke 25, berkarir di Old Trafford, tiga pesta sudah digelar. Pertama, pesta bersama teman-temannya, yang digelar pada 3 November. Kedua, pesta di Old Trafford.  Dan, yang terakhir pesta bersama kerabat.



Sumber tulisan: libcom.org, BBC, dailymail, Wikipedia, NewStatemen.

Baca juga: