Gara-gara David Moyes Cewek Ini Jadi Korban


Buruknya penampilan Manchester United di tangan David Moyes membuat pendukung klub ini marah tiada henti. Mereka pun menumpahkan kemarahannya lewat akun twitternya, dengan menyebut nama akun @moyesy.

Simak salah satu yang ditulis akun @kieranharris17. “Terima kasih banyak @moyesy untuk menangani manutd dengan taktik yang sama sekali tak berguna.”

Akun lainnya sama saja. Mereka menyoroti kegagalan Moyes. Bahkan tak jarang yang memakinya. Semua ditulis dengan menyebut akun @moyesy.

David Moyes tenang-tenang saja. Toh akun itu bukanlah miliknya.  Justru seorang perempuan cantik yang bernama Sarah Moyes yang kelabakan. Lini masanya dipenuhi dengan caci maki yang tidak dipahaminya. Maklum dia seorang wanita yang banyak bergerak di dunia fashion.




Hasilnya, dia pun tak tahan lagi dengan serangan tersebut. Dia akunnya, dengan menulis tentang jati dirinya. “Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan manajer sepak bola yang bernama David Moyes,” tulisnya.

Dia pun melanjutkan. “Bisakah Anda semua berhenti menyebut akun saya ini. Saya yakin David Moyes memiliki akun sendiri,” tulisnya.



Moyes punya akun twitter? Sepertinya tidak.

Kejadian ini juga pernah terjadi pada akun @rvp yang disangka dimiliki oleh Robin van Persie

Read more »

Class 92 Membeli Klub Kenangan


Bila David Beckham tengah sibuk dengan membangun klub sepak bola di Miami yang akan laga di Major League Soccer Amerika Serikat, teman-temannya yang lain – yang juga sama-sama merupakan angkatan 92 yang fenomenal itu malah memilih membeli klub kecil di Manchester.

Paul Scholes, Ryan Giggs, Nicky Butt, dan Neville Bersaudara  -- Gary dan Phil patungan membeli klub Salford City. Klub semi profesional ini bermain di Divisi Satu Liga Utara atau Division One North.

Kompetisi ini merupakan kasta kedua dari Northern Premier League. Atau sederajat dengan kasta ke empat dari Sistem Liga Nasional atau kalau mengikuti sistem Liga Inggris – yang merupakan puncaknya adalah Liga Primer, kompetisi yang diikuti Salford berada di divisi 8.

Salah satu rival mereka adalah United of Manchester – yang merupakan klub yang dibangun oleh para fan Setan Merah yang kecewa saat klub itu diambil alih oleh Keluarga Glazer asal Amerika Serikat.

Sebenarnya kabar ini sudah lama muncul. Namun, pengumuman resmi ini baru dilakukan Kamis kemarin. Bersamaan dengan itu pula, klub Manchester United membantah rumor bahwa mereka – para alumni Class 92 akan mengambil alih kepemimpinan manajerial klub itu yang saat ini berada di tangan David Moyes.

Hanya klub kecil memang dan bukan pula niatan dari para bekas pemain hebat Manchester United itu untuk mencari uang. Tujuan mereka, ternyata mulia, yakni ingin membantu anak-anak di sekitar klub itu untuk mewujudkan mimpinya menjadi pemain sepak bola.

Salford adalah klub kenangan mereka. Simak kata Gary Neville. “Aku mengikuti tes masuk Manchester United di Salford. Saat itu saya berusia 11 tahun dan saya tidak aka melupakan betapa pentingnya Salford,” katanya.

Di masa itu, masih kata Gary, semua obsesinya terkumpul di sana. “Bagi saya Salford City FC merupakan tahun-tahun awal , komitmen , rasa lapar , antusiasme , keinginan dan semangat bermain sepak bola,” katanya. “Saya senang bisa mewujudkan usaha ini.”

Sama seperti halnya Gary, pemain paling senior di Liga Primer saat ini Ryan Giggs juga punya kenangan yang sama dengan klub ini. “Semua orang tahu betapa pentingnya Salford adalah untuk saya. Ini adalah akuisisi yang menarik. Kami ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada bakat-bakat muda yang memiliki impian. Kami ingin mereka mampu melakukan itu di Salford,” katanya.

Letak markas Salford memang tidak jauh dari Manchester United. Dengan hadirnya mereka di sana, langkah para pemain muda untuk bisa mengadu nasib di Old Trafford, menjadi lebih pendek.

Namun, masalah bukannya tidak ada. Semua alumnus Class 92 saat ini, mempunyai kesibukan sendiri-sendiri. Giggs masih pemain aktif di United, Phil Neville bekerja bersama David Moyes sebagai staf pelatih. Pun demikian dengan Gary yang terlibat bersama Roy Hodgson menangani timnas Inggris. Paul Scholes dan Nicky Butt sibuk dengan proyek tim junior Manchester United.

Lebih jauh lagi, setelah pembelian itu, belum ada pengumuman tentang perubahan manajemen di klub ini.

Read more »

Jersey Che Guevara Laku Keras

Klub bola anggota divisi 3 Brasil, Madureira benar-benar ketiban rejeki bagus. Jersey mereka dikabarkan laku keras. Kalau sebelumnya mereka hanya menjual 10 lembar jersey tiap bulannya kini mereka mampu menjual hingga 3 ribu lembar jersey.

Sebabnya di jerseynya pengurus klub menempelkan gambar Che Guevara, tokoh revolusioner Argentina. Nama yang jadi jaminan sukses. Kaos-kaos, cangkir, bahkan minuman energi yang menampilkan gambar Che juga laku keras.

Tapi bukan karena alasan itu saja kalau klub itu memajang wajah siluet Che dalam jerseynya itu. Sebabnya, jersey ini adalah edisi khusus dari ulang tahun kunjungan klub itu saat melawat ke Kubu pada 1963. Edisi jersey ini diberi nama Lima Puluh Tahun Tur ke Kuba.

Saat berada di sana, menurut sejarah klub itu --- Che memang menerima para pemain klub itu. Mereka mengobrol dan berfoto bersama. Makin lengkap, Che atau Kawan Ernesto Guevara -- yang saat di Kuba masuk dalam jajaran pemerintahan bersama Fidel Castro datang ke stadion untuk menonton pertandingan terakhir dalam seri lima pertandingan yang dilakukan klub itu.

Jadi hot item tentu bikin Presiden klub Madureira senang. Elias Duba -- si presiden itu bilang saat ini pabrik tidak mampu memenuhi pesanan yang masuk. "Madureira bukan klub besar tapi perhatian yang diberikan gara-gara jersey ini membuat saya berpikir sebaliknya," katanya gembira.

Sumber: Reuters

Read more »

Kasihan, Anak Beckham Belum Juga Dapat Klub

Pemain bola belum tentu punya anak yang jago juga. Sudah banyak buktinya. Anaknya Johann Cruyff -- si Jordy masih lumayanlah. Lainnya jeblok. Anak Diego Maradona -- yang jagonya minta ampun, hanya bisa main di klub divisi bawah.

Nasib yang nyaris sama terjadi juga dengan anak bekas bintang Manchester United David Beckham, Brooklyn, 14 tahun.

Setelah ikut trial di beberapa klub, seperti LA Galaxy, PSG, QPR, dan Chelsea -- dia pun kemudian berlabuh di klub bekas ayahnya menangguk banyak gelar, Manchester United. Kamis lalu, dia sudah berada di Pusat Latihan MU di Carrington.

Harapannya, sama seperti sang daddy -- yang pada usia yang sama diterima masuk dalam akademi The Red Devils. Untuk itu dia akan berada dalam beberapa waktu di sana, sampai nanti keputusan lulus atau tidaknya diumumkan pihak klub.

Brooklyn -- si sulung itu, disebut punya kemampuan dribble yang oke punya. Namun nyatanya itu tidak cukup. Pihak klub sendiri menolak untuk memberikan jawaban soal hasil dari latihan itu. Bahkan David Moyes -- manajer United sempat sewot ketika ditanya wartawan soal kemungkinan Brooklyn bergabung dengan mereka.

"Kami tidak membicarakan soal pemain muda. Anda tidak usah bertanya dan mengharapkan saya untuk menjawabnya kan?"

Banyak yang menduga ini adalah jawaban yang sebenarnya dari klub yang tidak ingin mengontrak Brooklyn sebagai pemainnya. Dengan kata lain, seperti juga di beberapa klub sebelumnya -- maaf Brooklyn memang anak Beckham tapi dia tak memiliki kehebatan yang bapak.

Beckham, eh si Brooklyn terpaksa harus mencari klub lain yang cocok untuk menampungnya.

Sumber: BBC, MEN
Sent from my @ngiknguks Berry®

Read more »

Mou Lebay Lagi, Gue Tabok!

Bukan Jose Mourinho kalau tak bikin ulah. Saat menjamu Manchester City pekan lalu dia bikin keki Manajer Manuel Pellegrini. Gara2nya dia merayakan gol Fernando Torres yang membuat Chelsea menang, dengan berlebihan. Dia melompat ke arah penonton. Dia pun disambut pelukan pendukung tim tuan rumah. Mou pun dihujat banyak orang karena berlebihan alias lebay. "Saya ingin merayakan gol dengan anak saya," Mou membela diri.

Manuel Pellegrini pun sebal. Kedua orang yang memang berperang dingin saat sama berkompetisi di Spanyol musim lalu. Pelatih Cile itu ogah bersalaman ketika pertandingan usai.

Menghadapi Newcastle nanti malam, manajer klub itu Alan Pardew mewanti-wanti si Portugis itu agar tidak mengulangi kelakuannya itu saat berada diSt James' Park --kandang Newcastle.

"Dia pasti gak mau melompat-lompat kaya gitu lagi, sebab entar bakalan gue gampar," kata Pardew, sambil nyengir. "Badan saya lebih gede dari dia. Dia tahu kok. Nah kalau dia mulai melompat-lompat kaya gitu lagi, di depan pendukung kami, dia akan mendapatkan masalah."

Pardew mengaku tak masalah dengan kelakuan lebay Mou seperti itu. "Saya sendiri memiliki riwayat selebrasi begitu. Dia cuma bikin saya tertawa geli."

Sumber: Telegraph

Read more »

Liverpool Rekrut Cewek Majalah Playboy

Rabu lalu, Liverpool baru saja mengikat kontrak dengan perempuan cantik yang berumur 29 tahun. Bukan untuk dijadikan pemain tentu saja. Sayang ah kalau disuruh lari-lari mengejar bola.

Perempuan ini akan menjadi presenter di saluran televisi mereka, LFCTV. Rossana Davison, namanya. Dia memang cakep setengah mati. Maklum, dia bekas Miss World di tahun 2003 lalu. Selain itu, dia juga seksi.

Soal ini tak usah diragukan. Dia juga pernah tampil sebagai model majalah Playboy. Hmmm....

Tapi bukan soal cantik dan seksi kalau dia terpilih jadi presenter. Rossana memang Liverpudlian sejati. Sejak kecil, dia menjadi pendukung setia The Reds.

Hal itu ditularkan oleh sang ayah, Chris de Burgh, seorang penyanyi yang juga fans berat klub itu. Di tahun 1980-an dia pernah terkenal dengan lagu, "Lady in Red." Lagu yang didedikasikan pada penggemar Liverpool.

"Saya sangat, sangat menyukai pekerjaan ini. Apalagi saya adalah pendukung klub ini sejak lama," katanya. "Saya harap ini adalah permulaan yang menyenangkan."

Model asal Irlandia ini nantinya akan menjadi host untuk acara-acara yang berkaitan dengan fans di negerinya. Saat ini dia sudah membuat dua program berdurasi 30 menit. Acara ini akan rutin tayang akhir tahun ini.

Sumber: Irish Herald.

Read more »

Pjanic, Incaran Baru David Moyes


Namanya Miralem Pjanic, umurnya 23 tahun, dan yang paling penting: maennya oke punya. Dia menjadi satu dari trio AS Roma yang penting. Aksinya bersama Kevin Strootman dan Daniel De Rossi di lini tengah Roma membuat mereka meraih sembilan kemenangan sampai saat ini.

Wajar saja kalau Manchester United ngebet pada pemain asal Bosnia ini. Menurut pantauan talent scout yang kabar rutin menyaksikan kehebatan Pjanic tiap minggunya -- pemain yang mengawali karirnya di Luxembourg ini merupakan pemain yang dicari United.

Nilai lebih lainnya, Pjanic diketahui lancar berbahasa Inggris. Jelas ini memudahkan Pjanic untuk beradaptasi dengan cepat.

Untuk pemain ini, kabarnya mereka berani mengeluarkan uang hingga 25 juta pound untuk mendapatkannya di masa bursa transfer Januari nanti.

David Moyes memang masih membutuhkan pemain tengah yang berperan sebagai pengatur serangan Setan Merah. Awal musim lalu, dia gagal mendapatkan Cesc Fabregas dari Barcelona. Begitu juga dengan Ander Herera --pemain Athletic Bilbao.

Kalau benar serius, kali ini United bisa mendapatkannya. Meski, menurut laporan media di Italia, Roma juga menawarinya kontrak baru selama lima tahun -- apalagi dia juga diperlukan untuk merebut Scudetto. Masalahnya sesuai dengan regulasi di sana, sepak bola Italia yang tengah dilanda paceklik membatasi jumlah transaksi pembelian pemain. Kalau saja United berani pasang harga tinggi, praktis Pjanis bisa berseragam Setan Merah.

Kalau pun melepasnya, Roma tetap untung besar. Saat dibeli dari Metz Prancis, pada 2011, mereka hanya mengeluarkan uang sebanyak 9 juta pound.

Read more »

Tragis, Pemain Muda Villareal Tewas oleh Ayahnya Sendiri


Suasana duka menyelimuti klub Villareal, Spanyol. Sebelum memulai latihan mereka pun selama satu menit menundukkan kepala untuk memberi penghormatan pada Jorge Monzonis Sempere.

Sempere, 10 tahun, adalah siswa akademi sepak bola klub itu yang tewas terbunuh oleh ayahnya sendiri, Senin lalu. Penyebabnya, hanya disebutkan sebagai korban dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga.

Menurut Kepolisian Nasional Spanyol, selain membunuh anaknya ayah Sempere yang tidak disebut jati dirinya itu juga membunuh istrinya. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri dengan melompat dari atap apartemen tempat mereka tinggal.

Atas kematian itu, klub Villarreal yang berjuluk Yellow Submarine itu menyatakan kedukaan yang mendalam. "Villarreal CF menyatakan duka yang mendalam atas kepergian Jorge Monzonís Sempere, pemain Alevin F, klub sepak bola kami," demikian pernyataan resmi di laman klub.

Ungkapan duka juga disampaikan klub saat klub senior mereka bertanding di La Liga, melawan Getafe, Kamis besok. "Sebelum pertandingan akan dilangsungkan mengheningkan cipta."

Selamat jalan Jorge. Rest in Peace.

Read more »

Fabien Barthez Juara Balap



Bekas kiper Manchester United dan juga timnas Prancis, Fabien Barthez menunjukkan kemampuannya dalam mengendalikan kemudi sehebat ketika dia berada di bawah gawang.  Akhir pekan lalu, dia dianugerahi sebagai juaras seri GT Prancis.

Di Sirkuit Paul Richard, dekat Marseille, Barthez yang bergabung dengan tim Sofrev ASP, berhasil menyelesaikan balapan di tempat ke-5. Saat yang bersamaan, temannya satu tim Morgan Moullin-Traffort berhasil di posisi ke-8.

Meski tidak menjadi yang pertama, namun tambahan poin dari sirkuit itu cukup untuk membuatnya mendapatkan 174 poin – yang merupakan tertinggi dari pembalap lainnya. Dua kemenangan dan empat kali naik podium membuat dia yang terbaik di antara 21 pembalap lainnya. Sekaligus dia juga mengalahkan juara dunia rally Sebastian Loeb.

Pencapaian yang luar biasa tentu saja. Barthez yang sekarang berumur 42 tahun, baru menekuni olahraga ini setelah dia mundur dari sepak bola, saat berumur 35 tahun.  “Saya sudah lama tergoda dengan balapan seperti ini. Bahkan ketika saya masih bermain sepak bola, balapan seperti tak henti menggangguku,” katanya.

Setelah menekuni balapan dia merasa bahwa olahraga ini sama sekali tidak terpengaruh oleh usia. “Tidak seperti sepak bola, di dunia balapan siapa pun bisa tetap bagus sekalipun sudah berumur 35 tahun,” kata Barthez.

Read more »

Kalah Main PS, Lukaku Hancurkan Joystick



Main PS memang menyenangkan. Di tangan kita, pemain hebat dunia bisa dikontrol kehebatannya. Berteriak, senang-senang, atau kesal adalah akibat dari permainan ini. Tapi, beda lagi dengan Romelu Lukaku.

Bermain dengan teman satu klub, Kevin Mirallas, pemain yang sangat piawai di lapangan terjadi tidak ada apa-apanya. Berkali-kali, main dia selalu kalah.

Akibatnya, karena kesal dia pun membanting joysticknya. Hasilnya, joystick itu hancur meski tak berkeping-keping.

Kalah main FIFA 14, Romelu Lukaku menghancurkan pengontrol PS3. Itu terjadi ketika pemain asal Belgia itu bermain melawan Kevin Mirallas, temannya di Everton.

Lukaku pun memamerkan kekuatannya di luar lapangan itu di jaringan Instagram. Mungkin saja, maksud dari memamerkan fotonya itu dia ingin bilang ada Mirallas, jangan main-main. “Aku akan mengalahkanmu kelak.”


Hikmah dari kisah ini jangan takut main FIFA 14 dengan pemain bola hebat sekalipun.

Read more »

Microsoft Ingin Jadi Sponsor Santiago Bernabeu


Koran terkemuka di Spanyol, El Confidencial menyebutkan Bill Gates telah menghubungi klub Real Madrid untuk mendapatkan hak memakai nama stadion Santiago Bernabeu.

Menurut El Confidencial, pertemuan awal antara kedua pihak sudah digelar. Presiden Microsoft negeri itu, Mary Garana dikabarkan sudah bertemu dengan Presiden Real Madrid Florentino Perez. Pertemuan itu sendiri sudah dilangsungkan di salah satu ruangan VIP di Bernabeu pekan lalu.

Santiago Bernabeu memang direncanakan akan dipugar dengan wajah yang lebih modern. Selain itu, mereka juga membuka kemungkinan masuknya sponsor yang kelak akan menyertai nama stadion itu.

Beberapa stadion klub-klub besar sudah melakukan itu. Di antaranya, Allianz Arena, Emirates Stadium, Etihad, Signal Iduna Park, Veltins Arena, dan klub Zenit yang sedang dalam pembangunan, Gazprom Arena.

Nah, bisa jadi nanti namanya menjadi 'Microsoft Santiago Bernabeu', 'XBernabeu 360′, atau nama-nama sejenis itu. :)

Read more »

Pengalaman Pas-Pasan Tapi Menangani Tim Nasional



SIAPA pun pasti mengangguk. Di sinilah, salah satu surga dunia berada. Saat bangun di pagi hari, matahari di sebelah timur memancarkan kehangatan. Bunyi ombak yang menderu pelan dan semilir angin terasa segar, menyapa setiap kali pagi datang. Rata-rata suhu udara di sini, berkisar 29 derajat Celsius. Tidak panas, namun terasa hangat. Sungguh bak berada di surga.

Kepulauan Turks dan Caicos merupakan bagian dari Inggris yang terdiri dari 40 kepulauan -- 8 di antaranya tak berpenghuni, di Karibia. Luas wilayahnya hanya 166 mil persegi. Jumlah penduduk keseluruhan mencapai 30 ribu orang.

Terletak sekitar 550 mil dari Miami, pulau-pulau di sini memang indah. Tiap tahunnya, lebih dari 200 ribu turis datang ke sana untuk berlibur. Kabarnya, dalam beberapa tahun terakhir, bintang Hollywood Bruce Willis dan pemain sepak bola Manchester United, Rio Ferdinand punya lahan di sana.

Di sana pula, Matthew Green – seorang lelaki Inggris berumur 41 tahun, sejak beberapa tahun lalu tinggal di sana. Rumahnya yang memiliki dua kamar dikelilingi oleh lahan terbuka yang ditumbuhi berbagai pepohonan. Tak jauh dari rumahnya tampak bukit dan danau yang indah. Green bisa menikmati pemandangan itu dari balkon di rumahnya.

Namun, ternyata semua itu bukanlah surga buat dia. Bukan karena dia telah terlalu terbiasa menikmati keindahan itu setiap hari, hingga merasakan semua itu menjadi biasa saja. “Semua orang berpikir enak-enakan duduk di pantai sambil minum pina coladas,” kata Green. “Saya juga kepinginnya begitu tapi di sini banyak pekerjaan yang harus saya lakukan,” katanya pada wartawan BBC, Andy Cryer --  yang menemuinya.

Di pulau ini, Green bekerja sebagai Direktur Teknik pada Federasi Sepak Bola Kepulauan Turks dan Caicos. Namun, tugas Green tidaklah mudah. Kepulauan Turk dan Caico merupakan salah satu penghuni ranking terbawah FIFA. Bersama Bhutan – yang hanya mampu menang 3 kali dari 40 kali bertanding, dan San Marino – yang bermain sebanyak 118 kali dan hanya menang satu kali, negeri ini mondok di urutan ke-207. Alias juru kunci.

Mereka persis di bawah negara-negara seperti Sudan Selatan – negeri yang baru terbentuk dan Macau yang duduk di peringkat 204 dan 205. Tepat di atas mereka adalah negeri yang bernama Anguilla.

Federasi sepak bola di pulau ini terbentuk pada 1996. Dua tahun kemudian diterima sebagai anggota FIFA. Meskipun sebenarnya mereka tidak memiliki lapangan, liga dan harus menunggu sampai sepuluh tahun kemudian untuk memenangi sebuah pertandingan melawan Kepulauan Cayman di kejuaraan Piala Karibia.

“Setiap saya pulang kampung ke Hull, orang-orang di sana – saudara atau teman, selalu mengolok-olok tim ini.  Saya menganggapnya sebagai lelucon saja. Tapi kemudian saya merasakan sebuah kebanggaan bila tim ini memiliki ranking yang lebih baik,” katanya.

Kemenangan yang mereka peroleh sudah lama sekali, yakni pada 2008 saat mereka mengalahkan St Lucia. Tidak hanya sebenarnya, tim asuhan Green juga sempat absen bertanding selama dua tahun. Sebabnya? Mereka kekurangan pemain. Maklumlah pasukan Green terdiri dari para pegawai. Ada yang bekerja sebagai polisi, pengacara, guru, dan pekerja bangunan.

Lagi pula, Matthew Green bukanlah pelatih hebat. Pengalamannya mengelola sebuah tim terjadi ketika pegang klub amatir di kampung halamannya, Hull. Sebelumnya, Green memang pernah menjadi pemain Hull junior. Namun tepat pada usia 15 tahun, kontraknya diputus. Dia pun kehilangan kesempatan menjadi pemain profesional. Hanya kecintaannya pada sepak bola yang membuatnya tetap mencoba peruntungan lain.

Namun karirnya memang bukan lapangan melainkan di kelas. Pada 1998 dia pun tiba di Bahama dan mencari pekerjaan sebagai guru. Nasibnya baik. Dia diterima di SMA di sana. Ternyata sekolah itu menjadi salah satu kawah candradimuka sepak bola di sana. Mereka memiliki tim yang lengkap. Malah tim perempuannya pernah menjadi juara nasional dari 2001 hingga 2007. Saat itulah jalannya untuk menjadi pelatih sepak bola pun terbuka.

Hampir bersamaan, dia juga tercatat sebagai pemain di Grasshoppers FC. Prestasinya hebat. Pada 2000-2001, dia menjadi pencetak gol terbanyak di klub itu. Hidupnya berubah, setelah dia membaca sebuah iklan yang dipasang oleh Federasi Sepak Bola di sana, pada 2007. Saat itu, federasi tengah mencari tenaga Direktur Teknik. Pengalamannya – ternyata dirasa cukup memenuhi kualifikasi itu.

Dia pun terpilih. “Kami pernah memenangi gelar juara di Liga Minggu. Tapi menangani sebuah timnas pasti berbeda," katanya.

Tugas Green memang bejibun. Sebagai Direktur Teknik, dia bertanggung jawab terhadap banyak hal membentuk timnas pria dan wanita, menyiapkan tim junior, bahkan juga mengajar teknik pelatihan dan wasit.

Rumitnya lagi, Kepulauan itu hanya punya enam klub amatir. Lebih ruwet, kebanyakan pemainnya merupakan kaum ekspatriat. Total pemain yang bisa diambil tak lebih dari 25 pemain saja.

Sebenarnya, menurut Green mereka punya banyak pemain muda dengan bakat yang lumayan. Namun kebanyakan mereka tengah belajar -- dengan mendapatkan bea siswa, di Amerika Serikat dan Inggris. Sehingga mereka sulit dipanggil pulang untuk bermain atau berlatih.

Satu pemain profesional yang mereka miliki adalah Gavin Glinton, 34 tahun, yang bermain untuk klub Mikado Nam Dinhis -- divisi dua Vietnam. Dia juga merupakan pemain paling subur yang telah mencetak 4 gol dalam 8 pertandingan internasional.

Optimisme kini membalut Green.  Tim ini memang tidak pernah bertanding sejak mereka kalah dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014. Mereka tersingkir setelah kalah secara agregat 10-0 dari Bahama.

Namun kini, menurutnya, tim mereka tengah berupaya bangkit. Saat ini, federasi telah memiliki sekitar 500 remaja yang terdaftar dalam pelatihan. “Jumlah yang lebih besar dari saat saya pertama kali masuk. Saat itu baru, kami baru punya 100 orang saja. Selama ini kami memang menekankan pada program pemain muda.”

Tidak hanya itu. Stadion baru pun tengah dibangun. Mereka juga telah memiliki 20 liga yang diisi oleh berbagai kelompok umur dan berdasarkan kelamin. “Tadinya kami hanya punya tiga liga,” kata Green bersemangat.

Dalam beberapa bulan ke depan, mereka juga sudah memiliki jadwal untuk pertandingan persahabatan. Laga yang penting untuk mempersiapkan mereka menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2018 di Rusia kelak.

“Tentu tidak mudah. Tapi, sepertinya sepak bola bisa menjadi olahraga populer di negeri ini di kalangan anak muda. Selama ini, atletik, softball, dan bola basket menjadi olahraga yang populer,” katanya. Kepulauan ini memiliki seorang sprinter hebat yakni : Delano Williams – yang memenangi medali emas nomor 200 meter di Kejuaraan Dunia Junior pada 2012 lalu. Kini Williams membela Inggris Raya.

Namun Green tak mau muluk-muluk dengan cita-citanya. Satu hal yang pasti, peringkat negerinya bisa beranjak dari dasar sudah menjadi sebuah kebanggaan bagi dia. Hasil itu cukup untuk mereka rayakan.  :)

Read more »