26.10.11

Mario Balotelli, si Malin Kundang

THE SUN hari ini merilis berita lagi tentang Mario Balotelli. Berbeda dengan pemberitaan sebelumnya, yang lebih banyak menampilkan sosokbad boy bintang baru kota Manchester, kali ini isinya tentang kenyentrikannya.


Begini kisahnya, Silvia – ibunya, menyuruh Mario untuk membeli setrika dan mejanya. Saat itu, Mama Silvia memang sedang berada di Manchester, untuk menengok Mario. Dia terkejut melihat rumahnya yang berantakan. Lalu perintah itu pun keluar.



Lima jam ditunggu, barulah Mario pulang. Apa yang terjadi? Tak ada barang pesanan itu. Mario masuk ke rumah dengan lenggang kangkung. Mana pesanan Mama?


Tak lama berselang masuklah mobil boks dari toko John Lewis – yang menjual berbagai peralatan rumah tangga. Dari mobil itu kemudian keluarlah berbagai barang. Tapi tak ada setrika apalagi papan setrikaan yang diminta. Barang-barang itu adalah meja pingpong, trampolin, dan dua buah skuter Vespa.


Mana pesanan Mama?  Sori tak ada keterangan lebih lanjut.


Dari cerita ini, di balik sosoknya yang sulit diatur seperti kata Jose Mourinho saat dia menangani Inter Milan, toh Mario adalah anak yang baik di mata Silvia, ibunya.


Sebenarnya, jika hanya ingin dibelikan setrika dan papan gosokannya, dia bisa saja menyuruh siapa saja yang ada di rumahnya atau cukup belanja online. Tapi dasar ibu, sehebat apa pun Mario – dengan gaji seratus ribu pound per minggu, dia adalah anaknya yang bisa disuruh-suruh sesuka hatinya.


***


SILVIA sebenarnya bukan ibu kandung Mario. Begitu juga, suaminya Francesco. Sejoli ini hanyalah orang tua adopsi Mario. Sejak usia 3 tahun, Mario tinggal bersama mereka. Itu terjadi karena orang tuanya, Thomas dan Rose Barwuah tak mampu lagi  membiayai pengobatan penyakit Mario kecil.


Thomas dan Rose adalah imigran asal Ghana yang mengadu nasib hingga ke Italia. Dia menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai pandai besi di Brescia. Sebelumnya, mereka tinggal di Palermo. Di sana pula, Mario Balotelli lahir.


Saat itu, Mario adalah anak yang sakit-sakitan. Ususnya bermasalah. Dalam setahun, dia bolak balik rumah sakit. “Dokter khawatir dia tidak akan sembuh. Bahkan, Mario dibaptis di rumah sakit, buat jaga-jaga kalau dia meninggal,” kata Thomas.


Keajaiban datang. Pada awal 1992, dokter menyatakan Mario sehat. Keluarga ini pun pindah ke Brescia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Brescia adalah kota industri yang maju.


Toh begitu, bukan berarti kehidupan mereka menjadi lebih baik. Keluarga ini hidup di sebuah flat yang padat. Mereka tinggal bersama keluarga imigran Afrika lainnya. Dalam keadaan seperti itu, kesehatan Mario tetap mengkhawatirkan.


Pihak dinas sosial di sana menyarankan agar Mario tinggal di tempat yang lebih layak. Salah satu usul yang dikemukakan adalah tinggal di keluarga  Balotelli , yang tinggal dekat Concesio. Keluarga Italia ini memiliki rumah yang luas. Mereka telah memiliki dua anak laki dan seorang perempuan.


“Pertama kali saya tidak terlalu setuju, tapi saya pikir inilah yang terbaik untuk Mario,” kata Thomas. Menurut Thomas setiap pekan dia menyempatkan diri untuk menjenguk Mario. “Keadaannya lebih baik dibandingkan jika dia tinggal bersama kami.”


***


TINGGAL bersama keluarga yang berkecukupan, Mario tumbuh menjadi anak yang sehat. Bakatnya di lapangan hijau pun terasah. Karir sepak bola Mario cemerlang. Setelah bermain dengan klub Lummezanne di umur 15 tahun, dia pun ditarik Inter Milan. Di klub ini pun dia kian berkilau. Singkat cerita, dia Mario menjadi bintang muda Italia.


Pada November 2008, rahasia hidup Mario terbongkar di media. Pers mewawancarai Thomas yang tak lain adalah ayah biologisnya. Mario pun marah besar. Bagi dia, “jika saya bukanlah Mario Balotelli dia tidak peduli tentang saya. Keluarga Balotelli mengadopsi saya ketika berusia dua tahun.


Mario nyerocos menghardik kedua orang tuanya yang dia sebut telah menelantarkannya di rumah sakit. “Saat itu aku berusia 2 tahun. Mereka mengirimku ke rumah sakit lalu meninggalkanku begitu saja,” kata Mario perihal asal-usul hidupnya.


Namun, Thomas Barwuah punya jawaban. Pada wartawan, dia menunjukkan selembar foto. Lewat foto itu Thomas Barwuah membantah cerita itu.  Dalam foto itu, Mario yang berusia 3 tahun, terlihat ceria bermain dengan Rose, ibunya dan juga adiknya. Berbeda jauh dengan yang diceritakan Mario.


Thomas dan Rose menyayangkan kisah dari orang tua adopsinya tentang kisah penelantaran itu. “Saya tidak tahu kenapa Mario bilang kami menelantarkannya di rumah sakit. Itu tidak benar,” kata Thomas. Kenapa kami memiliki foto-foto ini?"




***


DI USIANYA yang masih belia, Balotelli telah memperoleh segalanya. Kaya, tenar, dan dikelilingi wanita cantik. Beberapa hari lalu, Balotelli terlihat sedang jalan-jalan dengan Raffaella Fico, pacarnya yang paling baru.


Bukan hanya senyum yang dia tebar pada semua orang tapi juga pada seniman jalanan yang diajaknya berfose di depan kamera. Uang 20 poundsterling atau kalau dirupiahkan sekitar Rp 300 ribu dia berikan seniman jalanan itu.  Bagi Balotelli, yang bergelimang harta dan ketenaran, uang sebesar itu tentu bukan masalah.


Cerita lain ditulis di laman MySportIcon, yang mengunjungi kampung halaman Thomas, di Konongo, Ghana. Mereka di sana bertemu dan berbincang dengan Nana Kwadwo Barwuah, kakek Mario. Si kakek tak bisa menyembunyikan kekecewaannya dengan perilaku Mario. “Tidak pernah mengirimi uang pada bapak dan ibunya.”  Seperti halnya, Thomas, Nana menuduh orang tua angkatnya itulah yang telah meracuni pikiran Mario.


Di sebuah rumah susun yang sederhana, Thomas dan Rose tinggal. Demikian yang ditulis Daily Mail, tahun lalu. Pasangan ini masih tinggal di Bagnolo Mella, pinggiran Brescia, Italia Utara, bersama anak-anaknya. Thomas, sebagai ayah, tetap merindukan anaknya yang hilang itu. “Saya tidak menginginkan apa pun dari dia,” katanya. Dia tetap bangga pada Mario, anaknya, di mana pun dia berada.